Kominfo Membuka Kembali Seleksi Pemakaian Pita Frekuensi Radio 2,3 Ghz

Kominfo membuka kembali seleksi pemakaian pita frekuensi radio 2,3 Ghz yang sebelumnya diberhentikan, seleksi dilakukan pada tiga blok dengan rentang 2360-2390 MHz dan lebar per 10 Mhz.

Mereka juga mengatakan tujuan seleksi salah satunya untuk menambah pita frekuensi radio untuk Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler supaya meningkatkan kapasitas jaringan bergerak seluler.

Selain itu, tujuan lainnya merupakan untuk mendorong penggelapan infrastruktur jaringan bergerak seluler dengan teknologi 4G atau LTE.

Selain itu Kominfo juga mengharapkan teknologi 5G/IMT-2020 akan terwujud, serta mengoptimalkan potensi PNBP khususnya dari Biaya Hak Penggunaan spektrum frekuensi radio.

Menurut Mereka, akan ada tiga blok yang diseleksi dengan peserta dipersiapkan mengajukan penawaran minimal satu blok. Jadi tidak akan ada pembatasan jumlah blok yang dapat diperoleh.

Untuk persyaratan untuk peserta lelang meliputi

Pengambilan dokumen seleksi pada Rabu 17 Maret 2021 di Wisma Antara Jakarta.

Peserta lelang menandatangani surat pernyataan terkait dokumen seleksi dan menghadiri rapat pembelian penjelasan.

Peserta juga harus memberikan surat kuasa, menyampaikan alamat email dan nomor perwakilan perusahaan, melampirkan salinan identitas diri pada kuasa dan pihak yang diberikan kuasa, serta saat mengambil dokumen seleksi pihak yang diberikan kuasa wajib menunjukkan kartu identitas asli.

Sebelumnya, Mereka menghentikan proses lelang pengguna pita frekuensi radio 2,3 GHz. Sebenarnya, tiga opsel sudah dinyatakan menang dalam lelang tersebut.

PT Smart Telecom mendapatkan Blok A dengan harga penawaran Rp144,8 miliar. Sementara PT Telekomunikasi Selular mendapatkan Blok C dan PT Hutchison 3 Indonesia mendapat Blok B dengan nilai penawaran juga Rp144,8 miliar.

Tetapi, Johnny G Plate selaku menkominfo menyatakan lelang pita frekuensi 2,3 GHz tidak dibatalkan. Dia mengatakan pemerintah melakukan pelelangan ulang supaya akuntabel dan transparan.

Johnny menuturkan lelang pita frekuensi 2,3 GHz juga tidak ada hubungannya dengan penerapan teknologi 5G di Indonesia. Berbagai berita disangkutpautkan kedua hal itu berbeda dengan yang ada di dalam perencanaan Kemkominfo.

Lebih lanjut, Johnny menginformasikan lelang pita frekuensi 2,3 GHz merupakan untuk menambah dan melengkapi kebutuhan operator seluler dalam mengembangkan bisnisnya, terutama untuk 4G. Sedangkan untuk 5G dengan frekuensi 2,3 GHz, dia mengatakan jika dibutuhkan saja.