Untuk Sebar Internet di Pedalaman Indosat Ingin Pakai Balon Google Loon

Indosat Ooredoo mengatakan bahwa Indosat berdiskusi dengan Google terkait project Loon, yang akan digunakan untuk menyediakan interkoneksi di seluruh pelosok Indonesia.Alasan Google Loon dipilih Indosat adalah karena keputusannya telah melepas slot satelit 113BT kepada Telkomsat beberapa waktu lalu.

Menurut Natasha selaku Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo , pengaktifan satu satelit tersebut secara skala ekonomi tidak efisien dari pandangan Indosat Ooredoo, sehingga indosat tidak bisa lagi menyediakan harga yang kompetitif di layanan satelit.

Diskusi tersebut masih tahap awal, Natasha menyatakan Indosat Ooredoo bersemangat mencoba diskusi kerja sama dengan Google Loon.Hal ini mengingat, cara Indosat ini sejalan dengan wacana AiTi dan kemenkominfo yang juga ingin menyediakan akses internet di pelosok Tanah Air.

Apa itu Project Loon

Proyek Google Loon yaitu proyek yang bertujuan untuk menyebarluaskan internet ke berbagai lokasi terpencil di seluruh dunia. Proyek ini dinobatkan oleh Google sejak 2013 lalu.Proyek tersebut diprogram untuk membawa jaringan internet dengan wahana balon udara. Balon tersebut nantinya akan berperan seperti sebuah satelit atau BTS udara”.

Balon ini diluncurkan ke lapisan stratosfer dengan jarak dua kali ketinggian pesawat komersil jadi tidak akan mengganggu lalu lintas udara. Tetapi, dengan ketinggian tersebut masih jauh di bawah jalur orbit satelit.Kemudian, balon-balon Google Lion tersebut akan terhubung dengan internet service provider di darat melalui spektrum frekuensi radio tertentu. Penggunaan frekuensi inilah yang akan menjadi rintangan untuk Google Loon.

Google Loon Pernah Di UJi Coba di Indonesia

Google Loon pernah diuji coba 2 kali di Indonesia. Pengujian Loon pertama kali terdeteksi aplikasi Flightradar24 pada pertengahan 2014 silam di selatan Pulau Sumatera, sekitar area Bandar Lampung dan bergerak ke arah timur.

Penerbangan uji coba Google Loon yang kedua terdeteksi Balon helium dengan kode HBAL436 pada Maret 2015 yang lalu di laut Jawa. Balon tersebut melintasi laut jawa dengan ketinggian sekitar 20.400 meter dan bergerak dengan kecepatan 37 knot.

Pada tahun 2015 silam, di bawah kepemimpinan Menkominfo periode 2014-2019, Rudiantara, Google disebut meminta izin untuk menggunakan frekuensi 900 Mhz dan 700 Mhz untuk uji coba, namun tidak diizinkan.

Dikarenakan, pada frekuensi 900 Mhz sudah digunakan untuk 3 operator seluler, sementara untuk 700 Mhz masih digunakan untuk televisi analog.
Oleh sebab itu, Loon harus masuk melalui existing player dengan cara merangkul operator seluler di Indonesia, bukan memakai alokasi spektrum sendiri.

Saat itu, uji coba Balon Udara Google tersebut disepakati dengan menggandeng tiga operator seluler di Indonesia yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat. Pengujian tersebut digunakan menggunakan jaringan 4G LTE pada frekuensi 900 Mhz. Tetapi, sejak saat itu wacana memakai Google Loon ini kemudian hilang begitu saja.

Terbentur regulasi

Pengurusan proyek Loon di Indonesia berjalan alot lantaran terbentur beberapa regulasi. Pertama Peraturan Pemerintah nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Penjelasan tersebut, disebutkan bahwasanya orbit satelit dan spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas, dan penggunaannya spektrum frekuensi radio harus sesuai dengan alokasi nya.

Pengurusan izin Loon juga terbentur Peraturan pemerintah nomor 53 tentang 2000 tentang penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit. Pasal tersebut dalam aturannya menegaskan bahwasanya Pemegang izin stasiun radio yang telah habis masa, bisa diperpanjang dan dapat memperbaharui izin stasiun radio melalui proses permohonan izin baru.

Selain hal itu, perizinan Terkait stasiun radio tidak bisa diserahkan kepada pihak lain kecuali ada persetujuan dari pihak terkait (Menteri). Aturan tersebut yang menjadi tantangan bagi Google Loon.Dirut BAKTI KEMKOMINFO, Anang Latif, menurutnya bahwa selain aturan sharing frekuensi, balon internet ini juga masih terkendala perizinan tata ruang angkasa di Indonesia.

Regulasi tersebut menjadi domain Kemenhub, khususnya Dirjen Perhubungan Udara.Wacana penggunaan Google Loon di Indonesia muncul lagiMeski masih terbentur aturan, wacana penggunaan Loon untuk menyebarkan internet ke daerah 3T kembali muncul pada akhir 2020 lalu.

Johnny Plate, menyinggung soal penggunaan teknologi Loon untuk akses internet yang ditempatkan di atmosfer, sehingga bisa menjangkau wilayah lebih luas.Kata Jhonny, Ada juga teknologi Loon,untuk memenuhi kebutuhan akses internet kita sedang mempertimbangkan dan mengkaji, terutama pada layanan pemerintah di daerah.

Menanggapi soal wacana ini, Anang mengatakan bahwasanya saat ini KemKominfo masih mendengarkan presentasi dari pihak Google terkait teknologi Loon balon internet ini

Menurut Anang, Loon telah dikembangkan dengan teknologi baru, dan itu membuat Kominfo kembali menginginkan untuk menggunakan balon internet tersebut. Tetapi Anang tidak merinci update apa yang diberikan pada Loon.

Anang mengatakan, Betul, teknologi yang dipakai adalah Google Loon. Kami pelajari semua pilihan teknologi yang ada.Menurut Anang, untuk gunakan teknologi Google Loon ini, pemerintah masih harus melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak yang terlibat, termasuk operator seluler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *